Top Social

dan ceritanya

Kamis, 23 Juni 2016

Allah SWT Selalu Ada Untuk Anakku, Aku Tak Selalu Ada Untuk Anakku

Ramadhan kali ini banyak sekali hikmah yang bisa saya pelajari. Seperti mendapat peringatan tegas dari sebuah buku berjudul Saat Berharga Untuk Anak Kita karya Mohammad Fauzil Adhim. Apa yang saya baca mengingatkan saya dengan peran sebagai orangtua dan anak perempuan kami, Hasna.

Semua kembali pada niat. Selama ini sering dihadapkan pada orangtua-orangtua yang sangat bangga pada anak mereka. Merasa mulia karena telah mendidik anak mereka dengan susah payah dan ingin mendapat rasa bangga dari orang lain dan masyarakat. Astaghfirullah, merasa diri ini sebagai orangtua masih sangat rendah ilmu pengetahuannya, pembelajaran yg dihadapi belumlah banyak tapi sudah banyak rencana untuk anak menggapai masa depannya. Pernahkah memikirkan atau merasakan nurani anak? Ampuni aku Ya Allah, ampuni aku yang belum baik dan belum shalih dalam mendidik serta menghadapi perilaku anak.

Niat saya menjadi orangtuanya Hasna adalah mendekatkan dirinya dengan Yang Menciptakan dirinya, Allah SWT, mengenalkan sosok Rasulullah sebagai teladan manusia, mengenalkan 25 Nabi, kitab Al-Qur'an sebagai pedoman hidup, malaikat Allah, menyadarkan dirinya memiliki takdir baik dan buruk, mengingatkan bahwa ia hanya hidup sementara di dunia ini sampai batas waktu yg ditentukan oleh Allah, dan ia harus percaya akan adanya hari akhir. Sebelum mengenalkan ibadah pada Hasna, saya harus penuhi niat saya terlebih dahulu yaitu mengutamakan pendidikan akhlak dan penguatan akidah melalui proses pembelajaran sehari-hari dalam kaitan pendidikan anak usia dini. Menanamkan rasa kasih dan sayang menjadi prioritas saya dalam mendidik Hasna sampai usianya 3 tahun. Sehingga pencapaian pembelajaran Hasna pada usianya yang ke-3 sudah dikenalkan pada inti tujuan membentuk akhlak mulia, penuh kasih sayang, kepada segenap unsur alam semesta. Insya Allah saya bisa, berusaha istiqomah menjadi gurunya Hasna di rumah.

Menyadari betapa sering mata ini terkelabui oleh yang semu. Astaghfirullah, usaha saya selama ini belumlah berguna dan tak seberapa. Tidak hanya beragama Islam dan menjalankan kewajiban tanpa mengerti dan memahami maksudnya. Bukan sekedar ia belajar pendidikan agama Islam, ia harus mau memahami bahwa dirinya memilki Allah. Allah harus selalu ada di hatinya sehingga ia dapat menghadapi cobaan terberat saat mendapat ujian hidup. Tidak sekedar itu, bekal untuk jiwa dan psikisnya juga perlu ditanamkan sesuai tingkat pencapaian pertumbuhan dan perkembangannya. Allah selalu ada untuk anakku. Aku tak selalu ada untuk anakku.

Saya tidak akan membiarkan jiwanya gersang. Akan saya penuhi jiwanya dengan penuh rasa syukur, sabar dan ikhlas. Anak bukanlah kertas kosong. Ia sudah memiliki bekal dari segala takdir-Nya.

Hasna hanya membutuhkan kasih sayang kedua orangtuanya. Rasulullah mengingatkan, "Barang siapa tidak menyayangi, dia tidak akan disayangi." (HR. Muslim). Hasna hanya membutuhkan lingkungan hidup yang dipenuhi dengan kasih dan sayang dari kedua orangtuanya. Subanallah, saya banyak sekali belajar dari seorang Hasna. Bersyukur Allah telah titipkan Hasna diantara kami. Kehidupan kami lebih berwarna sejak Hasna hadir.
Be First to Post Comment !
Posting Komentar