Top Social

dan ceritanya

Rabu, 22 Juni 2016

Tak Ada Ibu Yang Sempurna, Jadilah Ibu Pembelajar

Saya seorang ibu, saya tak pernah merasa diri ini yg paling benar. Hanya saja saya selalu berusaha meyakinkan diri untuk mampu menikmati perjalanan seorang ibu. Alhamdulillah saya bersyukur telah memberi hak dasar anak saya, ASI dan vaksinasi.

Anak saya tidak menyusu ASI sampai usia 2 tahun melainkan sampai usia 1 tahun 1 bulan 1 minggu. Anak saya lah yg dengan sendirinya tidak mau menyusui dan seolah-olah dia menyadari dirinya sudah tumbuh besar. Sejak lepas menyusu ASI itu pun dia seperti tak butuh ditemani saat waktunya tidur malam. Sejak saat itu juga saya bersyukur sekaligus bangga anak saya berani tidur sendiri tanpa terbangun atau rewel pada pertengahan malam. Pernah sesekali dan itu pun hanya meminta minum air putih lalu melanjutkan tidurnya kembali.

Saya sebagai ibunya sering merasa takjub dan heran juga betapa ia tumbuh cerdas dan begitu cepat ingin mandiri. Padahal tidak pernah dipaksa. Sedari masih dalam kandungan, ia tak pernah merepotkan ibunya. Saya sejak hamil tidak mengalami mual muntah yg membuat tubuh lemas, mual dan muntah hanya 3 kali dengan pencetus utamanya adalah bau ayam goreng, hanya itu yg membuat saya mual. Saya juga tidak mengalami apa yg namanya mengidam. Suami saya malah yg banyak maunya seperti orang sedang ngidam ditambah suami yg oenciuman ya semakin sensitif sejak saya hamil. Beliau mendadak tidak suka wangi minyak telon, katanya minyak telon itu bau. Padahal sebelumnya beliau tak seperti itu. Lalu saya pun tak mengalami sering buang air kecil. Padahal sering buang air kecil adalah salah satu tanda atau keluhan bagi seorang ibu hamil.

Proses menjalani kehamilan yg bagi saya tidaklah mudah, sebab saat trimester pertama kehamilan saya mengalami perdarahan seperti sedang menstruasi. Dokter kandungan menyebutkan bayi saya sehat2 saja dalam kondisi perdarahan yg tidak sedikit. Lalu saya mencari opini dokter kandungan lain sebab perdarahan masih terus terjadi dan seperti halnya sedang menstruasi. Saya bertanya tentang placenta previa (plasenta yg menutupi jalan lahir), lalu dokter menyebutkan plasenta tidak menutupi jalan lahir, melainkan terjadi perobekan sehingga perdarahan terjadi dan menyebabkan janin kekurangan nutrisi. Saya pun saat itu juga divonis ancaman keguguran oleh dokter kandungan. Saya sempat merasa sangat lemah karena kondisi tersebut. Yg bisa saya lakukan hanya pasrah dan memohon diberi kekuatan pada janin dan juga diri saya. Mungkin memang benar yg namanya seleksi alam itu selalu ada, janin yg sempat bermasalah lolos seleksi alam dan lahir dalam kondisi fisik sempurna tanpa kekurangan apa pun. Berharap melahirkan seperti ibu pada umumnya, yaitu normal, namun dengan kendala yg ada pada fisik saya, thalassemia minor dan oligohydramnion membuat saya diputuskan oleh tim medis mengeluarkan janin dengan segera pada usia kandungan 38 minggu melalui tindakan operasi caesar. Tanpa merasakan seperti apa rasanya mulas mau melahirkan, mengalami kontraksi palsu pun tidak pernah. Janin begitu tenang tanpa pernah merepotkan saya. Dia pun sejak dalam kandungan begitu aktif, terutama saat diperdengarkan lantunan ayat suci Al-Qur'an.

Tak ada ibu yg sempurna, melainkan jadilah ibu pembelajar. Yg mau duduk bersama dan menemani anaknya dalam segala kondisi. Menjadi orangtua membutuhkan kesabaran dan keikhlasan yg besar. Selain tanggung jawab dalam menanamkan nilai-nilai baik dalam kehidupannya. Belum sampai ke arah sana, terkadang saya menghibur diri sendiri dengan tidak melakukan pekerjaan rumah untuk sementara waktu. Ada saatnya saya recharge energi otak saya untuk berpikir logis dan jernih. Bukan sekedar emosi atau perasaan. Justru untuk menyelamatkan hati dan pikiran perlu untuk tidak mengerjakan apa pun di rumah. Hanya berpikir dan merenung sejenak atau sekedar mengobrol ringan.

Memang pada saat tertentu saya tidak mau direpotkan oleh anak. Anak sering mencari perhatian, namun kembali disadarkan, makanan dan perhatian adalah kebutuhan utama anak usia 1-3 tahun. Sebisa mungkin saya memberi perhatian berupa kehadiran saya di saat anak membuthkan dan menemaninya dalam beberapa kegiatan. Saya pun berharap anak saya tidak menggantungkan dirinya pada kedua orangtuanya. Diajarkan supaya ia memiliki standar diri yg jauh diatas orangtuanya, memiliki visi dan misi, serta memiliki prinsip hidup supaya ia mampu menjadi individu yg konsisten tanpa mudah tergoda hal-hal sepele yg mampu menyeretnya ke arah yg kurang baik. Lengkapi perhatian bukan hanya dari ibu, tapi juga perhatian dari ayahnya. Sebab ayahnya masih ada dan sehat.

Terima kasih ya Allah.

Be First to Post Comment !
Posting Komentar