Top Social

dan ceritanya

Kamis, 26 Januari 2017

Hasna Mengenal Tanggung Jawab Memelihara Hewan Peliharaan

Kegiatan yang paling ibu-ibu sukai adalah pergi berbelanja. Entah itu belanja ke pasar tradisional atau pasar modern. Saya seperti biasa selalu menyempatkan diri berbelanja ke pasar tradisional bersama anak usia 24 bulan. Saya biasa berbelanja naik kendaraan umum sambil menuntun anak sekaligus melatih kepekaannya pada area perkembangan sosial.

Biasanya anak saya sejak bayi sangat mudah diajak bekerjasama. Di saat angkutan umum "ngetem" dan sudah pasti menunggu lama, ia bisa bersabar. Ketika saya sedang melakukan transaksi, ia bisa menunggu saya sampai selesai melakukan transaksi.

Ada yang berbeda pada hari ini, saya keluar dari area pasar menyusuri pinggir jalan yang terdapat pedagang kelinci. Awalnya anak saya belum menyadari ia telah melewati pedagang kelinci pertama. Saat melewati pedagang kelinci kedua, anak saya langsung mengarahkan langkahnya menuju kandang kelinci milik pedagang. Ia mengagumi ke-imut-an dan ke-lucu-an kelinci angora yang dijual di pedagang kelinci tersebut. Karena saya sambil menjinjing tas belanjaan yang berat dan tujuan kami mau naik angkutan umum untuk pulang, saya mengajak anak dengan kata ajakan, "Yuk nak, kita pulang". Namun anak saya tak menghiraukan ajakan saya. Dia masih dengan antengnya menatap dan mencoba berusaha memasukkan jari kecilnya ke dalam kandang kelinci yang berlubang itu untuk menyentuh kelinci angora berwarna cokelat. Saya berpikir mungkin anak saya ingin memelihara kelinci. Namun saya kembali teringat beberapa bulan yang lalu ketika anak saya minta pelihara 2 ekor hamster winter white saat kami berdua iseng mengunjungi sebuah pet shop untuk melihat dan menyentuh langsung jenis hewan peliharaan yang pernah ia lihat dalam tayangan screen time favoritnya, "Elmo's World" dalam tema "Pets". Nasib 2 ekor hamster winter white pun berakhir buruk. Dalam masa pemeliharaan 2 ekor hamster, 1 minggu kemudian 2 ekor hamster mati sekaligus. Anak saya yang usianya 22 bulan pada saat itu belum memahami, mengapa hamster peliharaannya mati? Ia hanya berkata, "Ci, Ho, ti" (Tachi Taro mati) tanpa tahu makna sesungguhnya apa itu kematian 2 ekor makhluk hidup? Saya paham nalarnya belum sampai pada proses siklus kehidupan (life cycle). Saya pun berpikir dia bisa berkata "mati" itu karena sedang meng-copy perkataan saya saat bereaksi melihat 2 ekor hamster sudah ditemukan tak bernyawa di kandangnya. Saya perhatikan anak dibawah 2 tahun masih terus berusaha "membangunkan" hamster yang sudah tak memiliki nyawa. Ia kira hamsternya sedang tidur jadi ia masih asyik "mengganggu" 2 ekor hamster yang sudah kaku. Lintas pikiran bulan-bulan sebelumnya menjadi pengingat saya untuk terus mengkomunikasikan pada anak saya bahwa memelihara hewan itu harus penuh tanggung jawab dan kasih sayang. Hewan peliharaan harus dirawat, diberi makan, dan dijaga keberlangsungan hidupnya.

Be First to Post Comment !
Posting Komentar