Top Social

dan ceritanya

Minggu, 17 September 2017

Menjadi Ibu Yang Lebih Rileks

Pernah nggak sih menghadapi hal-hal sederhana tapi penting seperti membandingkan kemampuan anak satu dengan anak lain? Sering mendengar dialog, "Anak saya sudah sekolah. Sudah pintar menyanyi, bisa makan sendiri, bisa menyebutkan huruf A-Z.." dan masih banyak lagi tentunya. Hal-hal itu berujung pada terlalu banyak keinginan dan harapan yang pada akhirnya 'dititipkan' kepada Hasna, putri pertama saya.

Salah satu 'titipan' saya yaitu pernah memiliki keinginan menyekolahkan Hasna sejak usia 1 tahun. Hal itu bukan tanpa alasan, sebab saat melihat anak lain seusia Hasna sudah bisa bicara dengan jelas dan banyak kosa kata yang diucapkan, saya sebagai ibunya merasa tertekan. Ada tuntutan-tuntutan dalam diri untuk segera mengajarkan Hasna dan membuatnya paham aneka kosa kata dari buku yang sudah pernah dibacakan.

Tuntuan-tuntutan dalam diri itu membuat saya ke sana-kemari mencari ilmu pengasuhan anak, tanpa ada kata lelah belajar mengikuti pelatihan khusus pendidikan anak usia dini, membeli aneka buku parenting populer, sampai aktif sebagai relawan di komunitas non-profit demi menjadi orangtua yang mencintai anak dan keluarga dengan lebih baik. Akhirnya ada hasil yang saya terima dari proses panjang pencarian ilmu. Perlahan tapi pasti, saya berubah menjadi ibu yang lebih rileks menghadapi setiap tahap perkembangan anak.

Saya bagikan kiat untuk menjadi ibu yang lebih rileks:

1. Pahami kebutuhan anak

Setiap anak memiliki tugas perkembangan yang sama. Namun, waktu untuk mencapai sebuah tugas perkembangan bagi satu orang anak tidaklah sama dengan anak lainnya. Seorang anak berkembang sesuai usia berdasarkan kesiapan dan kebutuhan si anak.

2. Tidak menggegas kemampuan anak

Latih dan fokuskan anak untuk menjadi mandiri dan bahagia. Menurut pendapat psikolog pendidikan anak, "Kemampuan kognitif anak sangat bisa digegas, namun kemampuan psikologis anak tidak bisa digegas." Jangan coba-coba menggegas kemampuan anak kalau tidak ingin mendapat efek sampingnya.

3. Ekspektasi yang realistis

Jangan menitipkan harapan terlalu tinggi pada anak. Terima segala kondisi perkembangan anak tanpa menuntut berlebihan.

4. Belajar memahami temperamen bawaan anak

Temperamen anak secara umum terbagi menjadi 3, yaitu easy child, slow to warm up child, difficult child. Temperamen anak perlu dipahami orangtua karena sifatnya bawaan sejak lahir dan permanen. Jadi temperamen ini bukan bentukan pola asuh orangtua namun dapat mempengaruhi pola hubungan yang terbentuk antara orangtua dengan anak.

5. Memilih metode parenting yang sesuai dengan nilai-nilai keluarga

Setelah mempelajari beragam teori dan metode parenting, ternyata tidak semua ilmu parenting cocok dipraktikkan di keluarga. Saya dan suami selalu mendiskusikan bersama mengenai pola pengasuhan seperti apa yang akan diberikan untuk anak kami. Sebab kami menciptakan visi dan misi khusus dalam menikmati perjalanan sebagai keluarga.

Menjadi ibu yang lebih rileks perlu berlatih dan pembiasaan karena menjadi rileks pun perlu usaha. Selamat mempraktikkan kiat-kiat di atas. Semoga bermanfaat.


Be First to Post Comment !
Posting Komentar