Top Social

dan ceritanya

Minggu, 13 Mei 2018

#Modyarhood: Kangen Anak Saat Masih Menyusu ASI

Sebagai ibu rumah tangga tanpa asisten rumah tangga (baca: ibu tanpa pembantu) sejak menikah hingga kini, terkadang momen pasca melahirkan menjadi drama bersambung sekaligus memori indah yang membuat kangen masa-masa anak masih jadi bayi kecil tak berdaya. Ibu dan bayi sama-sama belajar menyusui dan menyusu dengan perlekatan yang baik, habis bayi nyusu pasti masih lebih banyak tidurnya, kalem dan hampir nggak pernah nangis (kebetulan Hasna dari bayi temperamen bawaannya kalem, tapi setiap minta nyusu pasti keluar suara, "ay" atau "ngging", dengan lantang.

Masih ingat detik pertama dengar suara tangisnya yang cetar, ternyata setelah tangisan cetar membahana satu ruang OK, dengan sendirinya si bayi menjadi bayi kalem minim tangisan.

Kangen masa nyusuin anak...
Kangen masa-masa menatap wajah anak saat lagi direct breastfeeding... 

Wajah imutnya yang bikin pandangan dan hati saya adem, tenteram, damai. Lalu hisapan mulutnya yang mungil dan drama puting lecet saking si bayi semangat banget nyusunya sampe puting lecet berdarah. Saya bukan mama perah, tapi sesekali suka perah ASI jika perlu. Hingga kini hal itu justru masih jadi kenangan manis dengan si kecil saat momen menyusui pertama kalinya.

Kenapa saat menyusui paling dikangenin? Simple aja sih, karena anak saya dengan sendirinya tiba-tiba nggak mau nyusu ASI lagi di usia 13 bulan 10 hari pas momen papinya cuti. Sempat kecewa dan sedih nggak bisa nyusuin anak sampai S3 (2 tahun). Di samping kekecewaan karena hanya menyusui sampai S2 ASI saja, ada hikmah dibalik "menyapih mandiri" yang dilakukan si kecil. Saya nggak usah repot menyapih. Sebagai ibu tanpa asisten rumah tangga rasanya kok si anak pengertian banget, mau 'bantu' ibunya supaya nggak terlalu repot melakukan pekerjaan rumah tangga sambil sebentar-sebentar nyamperin dia buat sekedar nyusu. Padahal ibunya sendiri rela banget kok direpotin terus sama si anak. Ku jadi terharu setiap ingat momen si kecil menyapih dirinya sendiri. Masih inget juga manisnya si anak pasca nggak mau nyusu lagi, jadi anak mandiri yang maunya tidur sendiri tanpa ditemani di kamarnya sendiri. Perasaan yang tadinya kecewa berubah jadi perasaan bahagia karena semua terjadi bukan atas paksaan saya, melainkan kebutuhan anak untuk menjadi jauh lebih mandiri dari aebelumnya.

Hikmah selanjutnya pasca "menyapih mandiri" ala si kecil adalah, saya bisa kembali nyanyi di panggung! Yeah... Bahagia sekali bisa kembali memberdayakan diri, meskipun saya bukan ibu penyanyi seperti Mbak Andien yang bisa menggendong bayi sambil nyanyi di pentas. Melainkan saya (akhirnya) bisa mengajak si kecil usia 15 bulan ikut latihan dan menemani saya manggung tanpa drama minta nenen. 😆

Kebayang kan di masa itu (tahun 2016), belum banyak baju menyusui kece kayak sponsornya Modyarhood, Nyonya Nursing Wear. Mana style komunitas musik Tabuhan Nusantara dominan musik tradisi, manggung pake kebaya setelan kain nusantara, nggak mungkin banget deh si saya bisa konsen sama part-by-part lirik lagu pas bagian isi backing vocal-nya kalo tetiba anak yang lagi dititip ke papinya drama nangis kejer karena jadwal nenen tertunda. Daaan yang melegakan pasca menyapih mandiri Hasna akhirnya saya bisa minum KOPI.

Kangen sekali masa menyusui Hasna. Kangen wajahnya yang membuat hati sejuk.
Kangen suaranya yang khas saat minta nyusu.
Kangen saat saya ngobrol sama suami terus Hasna yang lagi menyusu bisa pause hisap nenen dulu demi nyimak obrolan mami-papinya.
Kangen masa-masa nggak minum kopi demi asupan nutrisi masa menyusui.

Hanya cerita recehan ibu rumah tangga, tapi sarat makna buat saya pribadi. Menyusui itu bukan urusan berapa lama waktu menyusui, akan tetapi saya merasakan ikatan batin kami (saya dan anak) semakin kuat karena proses menyusui secara langsung. Menjaga kewarasan di masa kini, saat anak sudah lewat usia batita, dengan mengingat momen yang masa itu menjadi episode drama bersambung dari malam ke malam, hari ke hari. Sekarang justru dirindukan. Semakin merasa anak yang dititipkan Tuhan selalu membawa pembelajaran berharga bagi ibu dan juga ayahnya. Momen menyusui dan menyapih mandiri menjadi penuh makna belajar. Bagi saya dan suami, menjadi orangtua itu perjalanan belajar tanpa henti. Meskipun maminya sesekali kelelahan dan merasa mau modyar. Tapi tetep meskipun modyarhood, anak memandang kita sebagai ibu kece kok. Buktinya anak masih bentar-bentar cari ibunya kaaannn...



Be First to Post Comment !
Posting Komentar